Thursday, September 24, 2009

Islam itu agama aksi, agama gerak.

Saya teringat perkataan Ismail Raji Al-Faruqi, muslim Palestina yang dibunuh oleh orang Yahudi di Amerika, yang mengatakan ,”Islam is a religion of Action” Islam adalah agama aksi. Kata-kata ini sering kali menghentak saya tatkala muncul dalam diri saya sebuah kemalasan, kejenuhan dan kepasifan. Kata-kata ini sering memecut saya untuk bekerja sekuat tenaga agar bisa memenuhi tugas kehambaan, kekhalifahan dan keumatan saya.

Ya, Islam itu agama aksi, agama kerja. Agama gerak. Agama yang menekankan aktivitas dan mencegah pasivitas. Agama Islam adalah agama yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa bergerak dan senantiasa bergerak. Beraksi dan senantiasa beraksi.

Seorang muslim diidealkan menjadi orang yang mengalirkan “hidup” bagi siapa yang membutuhkan, yang memberikan cahaya kehidupan bagi mereka yang tersendat
kesulitan. Seorang muslim diharapkan menjadi sosok yang mampu menghidupan gairah kehidupan seseorang, yang mampu menjadikan hidup lebih hidup dan bergairah, lebih semangat dan bermakna, lebih aktif dan sumringah.

Kamus seorang muslim telah kehilangan kosa kata “leha-leha” karena memang telah dengan sengaja dia hapus dari dalamnya. Ensiklopedi seorang muslim tidak memiliki kosa kata pengangguran karena memang ia tidak lagi dibutuhkan.

Seorang muslim menyadari sepenuhnya bahwa dirinya akan bermakna, berharga dan bermartabat jika dari dirinya mengalir karya-karya, jika dari otaknya mengalir ide-ide. Dia tidak akan pernah merasa nyaman untuk menjadi manusia lemah, manusia loyo. Sebab sikap lemah dan loyo tidak selevel dengan identitas keislamannya. Dia tidak pernah membiarkan waktunya lewat dengan leha-leha. Sebab leha-leha dan bermalas-malas, puas dengan kebodohan, rela dengan kehinaan, tidak bangkit untuk mencapai
nilai-nilai mulia, semua adalah bibit-bibit ganas penghancur semangat, kehinaan jiwa, kebekuan emosi. Ini merupakan hubungan nasab yang bergabung dengan bibit lainnya yang masih sesusuan menyia-nyiakan waktu, berpencar-pencarnya semua semangat dan bercerai-cerainya perhatian.

Seorang mukmin akan senantiasa mengisi detik-detiknya, menit-menit dan jam-jamnya dengan kerja-kerja yang bermanfaat, dengan amal-amal saleh yang menembus gelap. Dia sadar bahwa kerjalah yang mengantarkan umat Islam mampu mencapai kemuliaan. Kerjalah yang mengantarkan umat Islam mampu membangun peradaban, kerjalah yang membuat umat Islam mampu melahirkan para pahlawan, kerjalah yang membuat umat Islam mampu melahirkan para ilmuwan. Sejarah keemasan bangsa-bangsa manapun pasti dibarengi dengan anak-anaknya yang suka bekerja. Mereka membangun martabat, bangsa, budaya, peradaban dan kemanusiannya dengan kerja keras, banting tulang dan putar otak.

Kita dapatkan sebuah perintah tegas Allah dalam Al-Quran agar Rasulullah memerintahkan umatnya untuk bekerja keras karena kerja-kerja mereka akan dilihat oleh Allah dan akan dilihat oleh Rasulullah dan kaum mukminin :

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٠٥﴾

Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (At-Taubah : 105).

Tak ada pilihan lain bagi kita agar kita agar bisa eksis dan dihormati oleh bangsa-bangsa lainnya kecuali dengan menggenjot spirit kerja keras kita pada titik optimum dan maksimal. Tidak ada pilihan lain bagi kita selain memaksimalkan semangat kita untuk memberikan kontribusi sekecil apapun yang bisa kita lakukan demi umat manusia. Kontribusi kita adalah benih yang suatu hari bisa dipetik hasilnya, meskipun bukan oleh tangan kita.

Mainkan seluruh potensi kita, up grade energi semangat melayani, dan tampakkan pada dunia bahwa Islam dan kaum muslimin adalah manusia kerja yang mengharapkan ridha Tuhannya. Lalu katakan : Labora ergo sum (aku bekerja maka aku ada).


Saturday, September 5, 2009

Memahami Ibadah Puasa

Rukun Islam yang kedua ialah puasa. Apakah puasa? Apabila sembahyang dikerjakan lima kali seharisemalam, maka puasa dikerjakan pada suatu masa selama sebulan penuh dalam setahun. Apabila datang bulan Ramadhan, anda menahan diri daripada makan dan minum sejak fajar sampai ke petang.

Pada waktu anda sedang makan dan minum, apabila Subuh mulai mencerah dan anda mendengar azan, serentak hendaklah anda menahan tangan anda daripada makan dan minum. Selepas itu, jika makanan yang lazat dan minuman yang menggiurkan terhidang di hadapan anda, anda tidak akan mendekatinya sehingga terbenam matahari. Di sepanjang masa ini - sejak fajar hingga maghrib - janganlah anda meminum seteguk air pun, dan janganlah menelan sepotong makanan pun.

Tetapi pelarangan makan dan minum tidaklah berkepanjangan melainkan hingga suatu masa yang tertentu. Apabila matahari terbenam dan anda mendengar azan maghrib hendaklah anda segera berbuka. Dan pada malam itu anda boleh makan dan minum mengikut yang patut dan baik.

Fikirlah! Apakah yang anda lakukan itu? Tak diragukan bahawa latarbelakangnya adalah takut kepada Allah Ta’ala, yakin bahawa ia mengetahui dan melihat, iman akan Hari Akhir dan akan kehadiran di mahkamah Allah, ta’at yang kuat kepada A1-Qur’an dan kepada Rasul, perasaan kuat Untuk menunaikan kewajipan, menguji kesabaran dan ke sanggupan untuk mengalahkan hawa nafsu.

Bulan Ramadhan mendatangi anda setiap tahun. Ia berusaha mendidik anda selama tiga puluh hari penuh untuk mempunyal sifat dan akhlaq yang tinggi. Sehingga jadilah anda Muslim yang sungguh-sungguh sempurna. Dan dengan sifat dan akhlaq ini jadilah anda mampu mengekalkan ibadat yang hakiki yang wajib ditunaikan oleh seorang Muslim pada setiap detik hidupnya.

Kemudian, Allah Ta’ala tidak mewajibkan puasa ke atas semua orang Muslim melainkan pada bulan yang satu itu sahaja. Pada bulan itu mereka semua hendaklah melakukan puasa tanpa perbezaan. Di situ juga dijumpai banyak manafa’at.

Apabila datang bulan Ramadhan, seluruh masyarakat Muslimin diingkupi oleh udara kesucian, kebersihan, keimanan, takut akan Allah, ta’at kepada hukumNya, kelembutan akhlaq dan amal-amal baik. Dan tertutuplah pasaran perbuatan mungkar. Penyebaran kebaikan dan keindahan menjadi umum. Hamba-hamba Allah yang salih bertolong tolongan sesama mereka untuk melakukan perbuatan baik dan memberi kebaikan. Penjahat-penjahat pun mulai merasa malu mengerjakan yang mungkar.

Pada orang kaya timbul perasaan hendak menolong saudara mereka yang fakir miskin. Mereka membelanjakan harta pada jalan Allah. Jadilah seluruh Kaum Muslimin dalam keadaan yang sama. Dalam hati mereka tumbuh perasaan bahawa mereka seluruhnya adalah satu kelompok. Dan ini adalah jalan yang mantap untuk menumbulkan dalam diri mereka perasaan kasih sayang, persaudaraan, tolong-menolong dan persatuan.

Semua manfa’at ini kembali ke atas diri kita juga. Tuhan tidak mengambil faedah dan pelaparan kita. Ia tidak mewajibkan kita berpuasa Ramadhan melainkan bagi kemaslahatan kita. Barang siapa yang tiada menunaikan kewajipan ini tanpa sesuatu sebab sesungguhnya mereka telah menzalimi diri sendiri.

Banyak di antara mereka yang sedikit perasaan malunya dan keji jalan yang ditempuhnya. Mereka itulah orang-orang yang makan dan minum dalam bulan Ramadhan terang terangan tanpa segan dan malu. Seolah-olah mereka hendak menunjukkan-bahawa kita ini bukan dan jama’ah Muslimin, dan kita tidak berhias dengan hukun-hukum agama Ummat Muslimin itu.

Bahkan kita ini termasuk di antara orang-orang yang tidak merasa berat untuk meninggalkan jama’ah Kaum Muslimin dan tiada merasa malu untuk menjauhi Pencipta dan Pemberi rezki, dan termasuk orang-orang yang tiada merasa salah menentang undang-undang yang diwajibkan ke atas mereka oleh pemimpin besar s.’a.w.

Bagaimanakah boleh diharap dan mereka ini penunaian janji, amanah, akhlaq, perasaan akan kewajipan dan memeliharakan undang undang?!.

Sunday, July 5, 2009

Do’a Bulan Rejab

Rajab adalah salah satu dari Empat Bulan Haram atau yang dimuliakan Allah swt. (Bulan Dzulkaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rejab). Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan Ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 36)

Fenomena pergantian bulan di mata muslim adalah salah satu sarana untuk mengingat kekuasaan Allah swt dan dalam rangka untuk mengambil ibrah dalam kehidupan juga sebagai sarana ibadah.

Kerana itu, pergantian bulan dalam bulan-bulan Hijrah kita disunnahkan untuk berdo’a, terutama ketika melihat hilal atau bulan pada malam harinya. Do’a yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah saw. adalah:

اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَم رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ هِلاَلَ رُشْدٍ وَخَيْرٍ

“Ya Allah, Jadikanlah bulan ini kepada kami dalam kondisi aman dan hati kami penuh dengan keimanan, dan jadikanlah pula bulan ini kepada kami dengan kondisi selamat dan hati kami penuh dengan keislaman. Rabb ku dan Rabb mu Allah. Bulan petunjuk dan bulan kebaikan.” (HR. Trmudzi)

Shaum di Bulan Rajab

Shaum dalam bulan Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulia lainnya hukumnya sunnah.

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah aw. Bersabda:

Puasalah pada bulan-bulan haram (mulya).” Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.

Rasulullah saw. juga bersabda:

“Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan”.

Ibnu Hajar, dalam kitabnya “Tabyinun Ujb”, menegaskan bahwa tidak ada hadits, baik sahih, hasan, maupun dha’if yang menerangkan keutamaan puasa di bulan Rajab.

Bahkan beliau meriwayatkan tindakan Sahabat Umar yang melarang mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa.

Ditulis oleh Imam Asy Syaukani dalam Kitabnya, Nailul Authar, menerangkan bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur As Sam’ani yang mengatakan bahwa tidak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunahan puasa Rajab secara khusus.

Disebutkan juga bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab, sebagaimana Abu Bakar al-Tarthusi yang mengatakan bahwa puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat.

Namun demikian, sesuai pendapat Imam Asy Syaukani, bila semua hadits yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa di dalamnya kurang kuat untuk dijadikan landasan, maka hadits-hadits yang umum, seperti yang disebut di atas, itu cukup menjadi hujah atau landasan.

Di samping itu, karena juga tak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab.

Do’a Bulan Rejab

Bulan Rejab merupakan starting awal untuk menghadapi Bulan Suci Ramadhan. Subhanallah, Rasulullah saw. menyiapkan diri untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan selama dua bulan berturut sebelumnya, yaitu bulan Rejab dan bulan Sya’ban. Dengan berdoa dan memperbanyak amal shalih.

Do’a keberkahan di bulan Rejab. Bila memasuki bulan Rejab, Nabi saw. mengucapkan,

“Allaahumma Baarik Lana Fii Rajaba Wa Sya’baana, Wa Ballighna Ramadhaana.

“Ya Allah, berilah keberkahan pada kami di dalam bulan Rejab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”

Hadits di atas disebutkan dalam banyak keterangan, seperti dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam kitab Zawaa’id al-Musnad (2346). Al-Bazzar di dalam Musnadnya -sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyf al-Astaar- (616). Ibnu As-Sunny di dalam ‘Amal al-Yawm Wa al-Lailah (658). Ath-Thabarany di dalam (al-Mu’jam) al-Awsath (3939). Kitab ad-Du’a’ (911). Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (VI:269). Al-Baihaqy di dalam Syu’ab (al-Iman) (3534). Kitab Fadhaa’il al-Awqaat (14). Al-Khathib al-Baghdady di dalam al-Muwadhdhih (II:473).

Memperbanyak amal shaleh, seperti shaum sunnah, terutama di bulan Sya’ban. Diriwayat oleh Imam al-Nasa’i dan Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Huzaimah. Usamah berkata pada Nabi saw.

Wahai Rasulullah, saya tidak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Engkau lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rejab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang. Di bulan itu perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa.”

Allahu a’lam

Source

Kuda Zaman Kita

Kereta merupakan Kuda pada zaman ini.

Bagi yang mahu bergerak ke sana-sini atas jalan Dakwah ini, tahu bagaimana cara untuk membawa kereta dengan baik adalah satu perkara yang wajib dipelajari.

Oh, bukan sahaja membawa.

Seperti mana kuda itu perlu dijaga sihat tubuh badannya, makanannya, dan kekuatan lariannya, kereta juga mesti dijaga "maintanence" nya seperti itu.

Kenalah tahu juga apa yang perlu di-check selalu -Minyak Hitam, Air filter, Gear Box, Tayar, Brake dan lain-lain.

Bukan boleh main bawa je tiap-tiap hari tanpa ambil tahu tentang 'Kuda' kita.

Saturday, July 4, 2009

Jangan Malu-Malu, Nanti Rugi!

Di dalam Surau di sebuah shopping complex;

Jamal selesai mengambil wuduk lalu melangkah ke dewan solat.

Dia berdiri tegak seketika seolah-olah menunggu seseorang.

Di situ, dia memerhatikan satu-persatu orang keluar masuk.

Yang masuk, seorang demi seorang angkat takbir di sejadah masing-masing kemudian... habis selepas salam dan keluar.

Dia masih lagi tidak solat dan berdiri di situ.

Kemudian, dia nampak beberapa orang datang nak bersolat. Dia tahu, kali ini peluangnya.

Selesai tiga empat orang daripada beberapa orang itu berwuduk, terus sahaja Jamal melaungkan iqamah.

Wah, mudah sahaja untuk membentuk Jemaah Solat!

Lalu yang orang lain-lain selepas itu pun terus sahaja masuk jemaah sekali meskipun hanya mendapat masbuk.

Rupanya kalau tiada sesiapa nak iqamah, semuanya segan-segan nak ajak berjemaah.

Malu apanya?
Tanya je la... "Bang, jom jemaah sekali nak ?"

Kang dah berpeluang dapat 27 gandanya... Insya Allah.


Sunday, June 21, 2009

Apabila pulang ke Zon Selesa


Sehingga hari ini ana jangka sudah ramai yang tiba di Malaysia untuk pulang bercuti. Namun, masih ada di beberapa tempat sebilangan pelajarnya sedang bertungkus-lumus bermujahadah menghadapi peperiksaan akhir semester ini.

Seseorang Muslim yang sudah faham itu percaya bahawa cuti summer kali ini boleh juga menjadi satu jalan untuk dirinya agar dapat lebih mendekatkan diri dengan Allah swt.

Mungkin suatu yang pelik. Sedang cuti adalah waktu untuk masing-masing pergi melancong, bersenang-lenang, melepaskan tensi, bermain, bersuka-ria dan juga tidur lebih panjang seharian di rumah serta berehat bersama keluarga, kita pula menjadi orang pula berusaha untuk memanfaatkan cuti ini dalam membentuk diri menjadi Muslim yang benar-benar faham tanggungjawab dan peranan diri.

Bagi kita, waktu inilah sepatutnya menjadi masa yang terluang untuk meningkatkan kefahaman dalam Islam, mempelajari Islam dengan lebih mendalam dimana sukarnya kita nak dapatkan ilmu-ilmu itu ketika di Russia, melipat-gandakan ibadah, mengukuhkan lagi silaturahim dan juga menyumbang dalam aktiviti sosial masyarakat.

Ikhwat dan akhwat sudah semestinya bersedia (walau sedikit) untuk membawa agenda pengislahan (perubahan) yang telah kita sepakati dan fahami apabila balik ke Malaysia kepada keluarga sendiri, saudara mara dan juga terhadap masyarakat sekitar yang mudah untuk dirapati. Perubahan serta kefahaman Islam yang dilalui, didapati dan difahami itu mesti diteruskan dan disebarkan untuk dikongsi bersama supaya masyarakat kita pun semua dapat juga memahami Islam dengan lebih jelas.

Alhamdulillah, memahami Islam sebagai cara hidup apabila berada di luar zon selesa seperti di Rusia ini adalah lagi mudah untuk kita semua berbanding apabila berada di Malaysia di mana zon kelabu (baca : zon hitam dan zon putih bertindih) itu lebih luas dan pekat.

Ikhwah dan akhwat berkemungkinana akan terkeliru manakah satu hitam dan manakah satu putih?

Itu ini benar atau salah?

Itu ini berdosakah atau amalan normal masyarakat?

Adakah ia ada dalam Islam? atau Jahiliyyah yang dimodenkan?

Dan pelbagai lagi...

Ketidaksediaan mental, spiritual malah juga fizikal dalam menghadapi semua ini akan menyebabkan kita sebagai para daie semua akan berasa susah dan tercabar untuk 'maintain' dengan apa yang telah dilalui sepanjang tahun di bumi Rusia.

Malah, mungkin juga tumbang dengan tarikan-tarikan al-hawa yang masih bermaharajalela di pelusuk tanah air. Zon selesa di mana masjid, makanan halal, dan orang muslim yang berada di mana-mana sahaja boleh menyebabkan ikhwah dan akhwat akan terpedaya dan terasa begitu selesa sehingga menyebabkan sifat 'take for granted' tumbuh dalam hati dan diamalkan sepanjang cuti itu.

Selain program-program khusus yang bakal ikhwah dan akhwat lalui sebagi Refresh Iman dan juga EXTRA Pengisian sepanjang cuti ini, preventive measures atau langkah-langkah persediaan mesti juga dititik-beratkan bagi memastikan diri kita sendiri sentiasa istiqamah dalam mengejar mardhAtillah itu.

Antara beberapa perkara penting yang boleh dilakukan :

1) Cuba sedaya upaya untuk megejar solat lima waktu itu secara berjemaah di Masjid atau surau yang terdekat. Ataupun, mengajak family solat berjemaah bersama terutamanya waktu subuh dan maghrib atau isyak. Kalau kita boleh maitain di sini, mengapa tidak di Malaysia? Pengalaman di sekolah pada zaman lampau kita yang lalu, saya rasa sudah cukup untuk mengajar kita. Dulu, ketika di sekolah (yang berasrama terutamanya) bukan main lagi penuh solat jemaah, bahkan selalu pula menjadi Imam. Namun, apabila balik bercuti sekolah sahaja, Subuh hari pertama pun sudah ter-miss.... Ops, cukup lah zaman sekolah kita itu ya! Kita berubah kali ini bukan kerana sentimen-kan? bukan kerana paksa-paksa-kan? dan juga bukan kerana orang sekeliling kan? Insya Alah.

2) Membaca Quran setiap hari. Ya, macam biasa... Apabila cuti, sifat malas, berlengah-lengah dan suka tidur lama-lama akan mula slowly develop dalam diri kita. Kalau once kita start tangguh-tangguh nak baca Quran atau miss sahaja satu hari, tengoklah satu hari nanti penyakit itu akan terus melarat beberapa hari... Jangan sampai sepanjang cuti kita tidak sentuh Quran sudahlah ya!

3) Cuti ini jugalah untuk antum semua memanfaatkan masa membelek-belek buku-buku pengajian Islam, buku-buku usrah dan tak ketinggalan juga buku-buku pengetahuan am yang lain. Jika dahulu, ada alasan kurang masa kerana sibuk mengulangkaji pelajaran medik, namun kali ini sudah tiada alasan untuk mengelak. Insya Allah, the more a person acquires useful knowledge, the more he or she draws closer to Allah.

4) Lebihkan juga masa untuk ibadah khusus seperti Qiamulail. Hafazan surah-surah juz 30 yang tak cover lagi itu juga adalah amat sesuai untuk waktu cuti summer ini.

5) Tidak nafikan tujuan balik bercuti ini adalah untuk berjumpa dengan keluarga masing-masing. Namun, ini bukanlah alasan untuk ikhwah dan akhwat semua skip atau escape program khusus mahupun general. Kualiti masa bersama keluarga sama ada berada di rumah atau pergi melancong ke mana-mana adalah lebih penting berbanding kuantiti masanya. Apa guna seminggu tinggal di rumah, tapi 'substance' semasa berada bersama keluarga adalah kosong?

6 ) Dan banyak lagi langkah lain yang antum sendiri dapat fikirkan...

Apapun, yang penting untuk semua adalah apa yang ada dalam diri itu sendiri dan peresediaan yang ingin dilakukan. Sesetengah keluarga mungkin akan ada berasa pelik sedikit apabila salah satu ahli keluarganya macam jadi 'baik' pula lagi-lagi apabila pulang dari luar negara. Hubungan baik sesama ahli keluarga mesti dijaga sebaik-baiknya kerana merekalah madhu utama untuk kita sampaikan mesej Islam ini. Usahlah terlalu keras dan terlalu taksub, takut-takut kita pula yang merana kelak.

Semua ini bukanlah ingin 'bertopeng baik' di rumah bersama keluarga, tetapi langkah-langkah itu adalah antaranya sebagai preventive measures untuk ikhwah dan akhwat sendiri.

Ingat bukan senang untuk maintain apabila pulang ke Zon Selesa ini WALAUPUN hanya DUA BULAN bercuti !!!

Tarikan TV, Makanan, Masa terluang yang panjang, Kawan-kawan lama dan macam-macam lagi benda boleh melalaikan andai kita tak berjaga-jaga...

dan Ingatlah Usrah dan tarbiyah kita itu kan 24 jam-365 hari...

Jadi, berusahalah dan carilah jalan untuk maintain dengan sebaik-baiknya...

CUTI UNTUK SEORANG DHUAT ITU BUKANLAH CUTI SEGALA-GALANYA...

wAllahu Alam...

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa'at bagi orang-orang yang beriman" (51:55)


Semua ini adalah nasihat untuk diri sendiri dan zaujati juga =)
Selamat Bercuti!

Thursday, June 11, 2009

Mabruk Doktor Abd Mustaqim!

Alhamdulillah...


Semoga semakin thabat dan bersemangat di jalan ini...

Semoga menjadi Dr yang berjaya, Soleh dan Musleh...

Semoga semakin kencang amal dan dakwahnya...

Moga2 menjadi motivasi dan tauladan juga kepada kami semua...


Insya Allah.